Rabu, Agustus 21

Yakin Tertarik Jadi Software Engineer? Ini Kemampuan Yang Harus Kamu Persiapkan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Dunia dengan perkembangan teknologi informasinya, kini menjadi hal biasa di kalangan masyarakat. Karena itulah masyarakat sekarang berada di masa perlombaan untuk mengerti lebih dalam tentang teknologi informasi.

Bagaimana tidak, dunia teknologi informasi tersebut telah memudahkan manusia dalam segala pekerjaannya.

Baca Artikel Terkait : Bagaimana Kehidupan Seorang Quality Assurance?

Kamu bisa dengarkan wawancara tim Techfor.id dengan Purnaresa Yuliartanto, Lead Software Engineer Tokopedia dengan klik tombol play di bawah ini.

https://techfor.id/wp-content/uploads/2019/02/Purnaresa-Lead-Software-Engineer-Tokopedia.mp3

Tidak hanya itu, munculnya aplikasi-aplikasi untuk bersosial media juga menjadi salah satu kebutuhan yang sangat melekat di kalangan masyarakat. Dengan mengikuti tren yang ada, secara tak sadar masyarakat sudah tak bisa lepas lagi dari pengaruh dunia ini.

Pernahkah terbenak bahwa dibalik kehebatan dan kecanggihan teknologi informasi tersebut ada penciptanya? Ya, tentu saja merekalah yang berupaya keras untuk memuaskan penikmat kemudahan teknologi tersebut, yaitu Software Engineer.

Software Engineer yang merupakan profesi dalam mendesain, serta pembuatan sebuah perangkat lunak atau aplikasi merupakan salah satu profesi favorite yang diidamkan oleh banyak orang.

Karena itu Techfor ID akan mengupas informasi lebih dalam tentang gambaran kerja menjadi Software Engineer bersama Purnaresa sebagai salah satu Leader Software Engineering dari Tokopedia.

Mungkin bisa perkenalan diri terlebih dulu.

Resa, Software Engineer di Tokopedia, sekarang memimpin Tim Tokopedia Travel Discovery. Tim ini mengatur bagaimana kita mencari transportasi seperti tiket kereta api atau pesawat.

Pertama bergabung di Tokopedia sejak tahun 2015 dan sering berpindah tim yang berbeda, kebetulan sedang fokus di Travel Discovery Team.

Untuk menjadi seorang Leader Software Engineer. Bagaimana sih sekarang dan kedepannya?

Saya punya dua contoh untuk bisa menjadi leader engineer yang bagus, yang pertama adalah lead saya yang pertama di Tokopedia yaitu Lucky Ong dan yang kedua adalah CTO Tokopedia yang terakhir yakni Qasim Zaidy.

Diatas kertas, mereka sudah pasti tergolong orang-orang yang pintar. Namun, mereka tidak pernah mengedepankan urusan skill, melainkan kemampuan komunikasi dan psikologi. Karena mereka selalu bisa memberikan dorongan kepada tim nya untuk selalu bergerak maju.

Software Engineer itu selalu dianggap harus pintar bisa coding dan segala hal soal teknis. Tapi sebenarnya tidak hanya itu, sepintar apapun kita kalau pintarnya hanya untuk diri sendiri, kemajuan yang dihasilkan hanya untuk diri sendiri saja.

Sementara, apabila kita menjadi seorang Leader, apalagi untuk Tokopedia yang sudah besar, goal kita adalah untuk membuat produk yang nyata , live. “It’s not about us, it’s about the team and actually the product itself

Jadi dari kedua orang tersebut, kunci utamanya adalah communication dan team building, sementara urusan teknis menjadi nomor kesekian.

Tetapi kita tidak bisa berada di posisi Leaderapabila kita tidak pernah berada di posisi expertise technical. Misalnya kalau kita tidak handal di bidang coding sendiri, bagaimana mereka akan mendengarkan kita.

Kita berangkat dari Engineer kemudian naik menjadi Senior Engineer. Ketika kita sudah menjadi leader fokus kita sudah berubah yaitu lebih kepada team.

Tantangan apa yang dihadapi selama menjadi Lead?

Tantangan nomor satu saat menjadi Leader terdiri dari dua aspek. Pertama, saat Product Development. Tokopedia memiliki agen yang besar dan kebutuhan pasar yang sangat cepat berubah.

Dalam kurun waktu mingguan, kebutuhan pasar bisa saja berubah. Itu hal yang wajar, karena memang pasar/market adalah pelanggan kita. Jadi kita harus up to date dan terbuka akan segala perubahan yang akan muncul.

Hal ini sulit dilaksanakan apabila kita masih memegang perspektif konsultan, terutama seperti model Waterfall yang harus mengikuti rencana awal. Sementara pada level product, yang tersulit adalah kita harus mampu menerima perubahan yang akan selalu hadir.

Kedua, aspek Team Building. Hal yang paling menantang adalah fakta bahwa setiap Engineer itu unik.

Semua lulusan Engineer di setiap kampus memiliki kurikulum yang berbeda dan perspektif yang berbeda. Jadi, ketika masuk ke Tokopedia, kita harus kembali beradaptasi dan menyatukan perspektif mengenai teknologi.

Tidak hanya bagi fresh graduate, hal ini juga berlaku untuk Senior Engineer yang datang dari kantor yang berbeda. Sehingga adaptasi yang dilakukan tidak hanya secara manusiawi tetapi juga adaptasi pada teknologi yang ada.

Sebagai Leader, kita harus memfasilitasi hal tersebut bagi team. Kita tidak bisa meninggalkan team untuk belajar dan beradaptasi sendiri.

Saling bahu membahu, membantu memfasilitasi apa yang dibutuhkan engineer-engineer baru dan saling berbagi aspirasi. Jadi tugasnya adalah memanusiakan Engineer.

Bekerja di Lead Software Engineer seperti ini, apakah menggunakan tools?

Tools yang kita pakai masih basic Visual Studio, Sublime, dan lain-lain. Kita sangat terbuka sih untuk pakai toolsnya. Yang lebih kita garis bawahi adalah teknologi yang kita pakai daripada tools nya, contohnya seperti yang saya sebutkan ada Elasticsearch, kemudian ada Redis.

Jadi, kita mendidik Engineer kita agar dapat menggunakan teknologi dengan maksimal. Untuk tools, jika mereka sudah tahu Redis itu seperti apa, mereka mau pakai editor apa saja terserah, laptop yang digunakan juga bebas, boleh OS, Linux, Mac atau Windows.

Saran saya bagi yang mau masuk ke dunia Start-Up Engineering, terutama fresh graduate, lebih fokuslah kepada fundamental daripada tools. Pada saat interview, hal yang ditanyakan juga bukan tools yang digunakan, melainkan pemahaman kita mengenai teknologi yang ada.

Bisa berikan gambaran mengenai keseharian bekerja sebagai Lead?

Untuk sehari-hari sebagai Lead, setiap pagi baik dalam perjalanan atau tidak, saya selalu cek dulu rencana untuk hari ini. Mulai dari jam 10 pagi, kita ada daily stand-up dengan tim untuk berbagi update kegiatan kemarin dan didiskusikan bersama.

Setelah dari itu, kita biasanya kembali kepada pekerjaan masing-masing, untuk Engineer kebanyakannya menyelesaiakan coding.

Beberapa minggu ini sebenarnya saya jarang coding ya, karena kita ada product development baru dan sebagai Lead saya harus memastikan proyek ini berjalan sesuai timeline yang tepat dan persyaratan yang diminta oleh produk dan bisnis sama.

Kalau saya terlalu fokus dengan pekerjaan saya, mungkin ada resiko antar tim tidak harmonis atau bergerak bersama-sama (in-line), ketika sudah harmoni nanti saya akan ikut coding juga.

Coding itu biasanya menghabiskan waktu entire day, kecuali ada meeting, talk event atau interview orang.

Kalau Lead software engineer kerjanya bisa remote tidak?

Di Tokopedia kita bisa remote, sebagai Engineer memang kita bisa remote ya. Kenapa kita ga selalu dirumah saja? Karena nyatanya kita selalu butuh kolaborasi sih.

Contoh di zaman Engineer sekarang yang pakai konsep micro service berarti setiap orang punya responsibility masing-masing dan saling berkomunikasi.

Jadi, kita harus masing-masing sediain waktu untuk saling koordinasi mengenai progress kerja. Walaupun bisa remote juga, duduk bareng itu masih terasa lebih enak.

Hasilnya memang beda ya kalau kerja remote?

Saya tidak bisa mengeneralkan semuanya ya. Karena beberapa memang ada yang suka sepenuhnya remote, kadang ada beberapa yang suka di kantor. Saya rasa harus seimbang. Boleh remote, tetapi harus pastikan dapat berkomunikasi dengan baik.

Sejauh ini di Indonesia, kita masih butuh duduk bareng karena connection kadang tidak bagus. Sejujurnya, pengalaman kita meeting online sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk memastikan koneksinya sudah bagus atau belum.

Kita sibuk untuk memastikan apa yang orang lain dengar dan apakah lawan bicara kita sudah memahami apa yang dibicarakan. Apabila infrastruktur dan internetnya sudah bagus, maka kita bisa lebih sering remote sih bekerjanya.

Setiap menyelesaikan project, masalah apa yang sering muncul?

Kalau saya bandingkan dengan corporate, dimana kita sudah punya rencana yang pasti, lalu dijalankan. Atau ketika sudah punya basic produk misalnya, kemudian kita jalankan secepat mungkin, lalu kita evaluasi setiap dua minggunya. Problemnya akan berbeda. 

Problem sekarang  adalah kita akan menjumpai kasus yang dulunya tidak pernah kita pikirkan. Seperti contoh, kita mau membuat produk X. Lalu kita merasakan sepertinya ada hal yang bisa kita tambahkan dari produk tersebut, apakah ingin sekalian menciptakan produk Y atau bahkan Z.

Kemudian pada akhirnya, produk X diawal tadi tidak diterima oleh masyarakat.  Hal tersebutlah yang menjadi tantangan, karena rencana produk kita dapat dibengkokkan kapan dan dimana saja. Jadi ada flexibility code dalam pekerjaan kita.

Berbeda dengan korporat, mereka membuat rencana produk yang solid dan besar. Nah kita rencana produknya kecil-kecil, kemudian ditambah sedikit demi sedikit.

Tapi ada beberapa produk yang sulit untuk dibengkokkan atau dirubah, bila masih perlu demikian, maka kita harus menyelesaikan perubahan yang benar benar signifikan.

Itu yang biasanya menjadi tantangan bagi kita dan biasanya cara kami mengatasi hal tersebut adalah berusaha konsultasi dengan tim lain yang lebih expertise. Jadi, ini soal bagaimana kita membuat produk yang cukup kuat diawal tapi masih mudah diganti-ganti.

Berapa kisaran gaji bagi seorang Software Engineer? Apakah ada perbedaan di setiap level kerja, perusahaan dan faktor-faktor lain?

Kalau soal ini saya tidak bisa jawab, karena saya juga tidak tahu rekan kerja saya yang lain punya gaji berapa. Sebenarnya saya tidak tahu banyak.

Tapi intinya, jika sudah melewati proses karir dari junior, kemudian bagus nanti dipromote jadi senior. Sekitar 3-4 tahun. Tapi kalau kita di Tokopedia setiap 6 bulan. Tapi tetap tergantung orang.

Ketika jadi senior semua orang punya cita-cita sendiri. Misal ada yang cenderung ke technical, atau yang cenderung ke product and development.

Jadi, mulai dari Software Engineer, Senior Software Engineer, kemudian jika dia ingin Principal Engineer atau Software Engineer Lead tadi, kalau sudah sampai itu biasa sudah besar gajinya.

Untuk jadi Software Engineer itu harus dari lulusan IT?

Saya rasa tidak. Diatas karir Software Engineer Lead seperti dikalangan Engineering Manager juga tidak melulu dari lulusan IT, ada yang dari Quality Testing, ada yang berasal dari Test Engineer, jadi tidak harus dari IT.

Bahkan pernah ada tim kita yang lulusan ekonomi, dia belajar coding, lalu masuk ke kita sebagai Software Engineer.

Pagi ini saya juga mewawancarai orang, sudah lolos di tahap awal memang dan melamar sebagai Sofware Engineer Lead, dan dia adalah pelamar yang sempat drop-out di kuliah.

Jadi perspektif saya, berdasarkan wawancara pagi ini, kita tidak mempertimbangkan dia jurusan apa, tetapi kita pertimbangkan dia pernah buat apa, dia punya visi  apa dan punya kemampuan team building seperti apa sebagai Software Engineer Lead.

Pernah punya pengalaman yang paling susah dihadapi selama menjadi software engineer, mungkin beberapa solusinya?

Pengalamannya cukup susah, yang gampang adalah kita diberi misi produk kemudian kita luncurkan dan selesai.

Tapi tidak berhenti sampai disitu saja sebenarnya, karena kita tetap harus memikirkan bagaimana perkembangan tim kita. Apakah tim kita skill nya semakin meningkat? Apakah ada yang harus di promosikan? Apakah mereka senang dan puas?

Karena kita ingin tim kita terus bertumbuh dan banyak kinerja yang masuk. Mungkin aspek-aspek selain coding merupakan aspek yang menantang. Sementara pengalaman yang paling gampang ya kegiatan coding, bagi saya.

Ada saran tidak untuk software engineer muda diluar sana?

Ini saya ambil dari pengalaman saya, yang saya dapat dari Qasim Zaidy, CTO Tokopedia yang lalu.

Saran saya bagi EngineerEngineer muda adalah jangan fokus berpindah-pindah kantor dan gaji yang tinggi, tetapi fokus ke apa yang bisa kamu buat.

Saya tidak menyarankan untuk mengejar karir atau jabatan yang melejit tetapi tidak berusaha membangun sesuatu yang bagus dan sepadan.

Jumlah saya coding bahkan tidak menyentuh setengah dari jumlah dia melakukan coding, tapi beliau masih tetap memikirkan bagaimana cara menciptakan produk yang bagus.

So, keep building something! Jika kantor yang kita tempati tidak punya lingkungan yang progresif dan supportive, kita masih bisa membangun produk diluar kantor.

Saya punya banyak teman yang sukses diluar kantor, dia didalam kantor biasa biasa saja. Tapi, diluar kantor dia punya produk-produk dan start-up yang sedang berjalan dan mereka menghasilkan uang.

Beberapa bulan ini saya coba seperti itu, untuk bikin suatu produk yang buat saya happy dan excited. Mungkin itu bisa ditiru sih, daripada lebih fokus mencari jabatan.

Ya itu terserah mereka sih, tapi kalau saat kita pensiun dari Engineer, orang tidak akan ingat jabatan apa yang pernah kita duduki melainkan produk apa yang sudah pernah kita buat.

Saran kedua saya dapatkan dari Lead pertama saya, namanya Lucky Ong. Dia yang merubah cara pikir saya sepenuhnya. Dulu saya adalah Engineer di banking consultant yang tekanan kerjanya cukup tinggi, bahkan jam 3 malam saya masih bekerja.

Waktu itu saya berpikir bahwa satu satunya hal yang membuat saya bertahan di industri ini adalah kemampuan dan kinerja saya sendiri.

Tetapi, Ko Lucky menunjukkan hal yang berbeda, bagaimana dia memperdulikan tim kerjanya, bagaimana dia membantu orang yang baru bergabung di Tokopedia. Dia sangat menginspirasi sekali. 

Dia bahkan menilai team nya bukan hanya dari aspek kinerja saja, tetapi juga dari aspek yang tidak pernah saya sadari yaitu bagaimana teamnya saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Pelajaran yang diharapkan ada di kampus, yang beda dengan dunia kerja?

Kalau dari pelajaran, saya tidak ingin komplain ke kampus. Sebenarnya kampus sudah punya materi yang oke, namun cara penyampaiannya saja yang masih kurang.

Dulu saya punya dosen namanya Bu Ike, dia lebih dahulu bekerja di industri Engineering baru kemudian mengajar. Judul kelasnya adalah tentang Project Analyst.

Dia menuangkan pengalamannya yang relevan ke penyampaian dan memudahkan kita untuk menangkap dan mengingat ilmu yang dibagikan.

Sebaliknya, ada perkuliahan lain yang lebih penting bagi mahasiswa IT, seperti programming. Kemudian disampaikan dengan referensi yang tidak relevan dengan dunia kerja, kita jadi akan merasakan hal yang berbeda saat benar benar ada di lapangan.

Jadi memang cara penyampaian dosen yang berpengalaman real experience dan dosen yang bermodal S1, S2, S3 akan berpengaruh bagi daya tangkap ilmu IT, terutama untuk diimplementasikan di dunia kerja.

Kalau dari Tokopedia, ada kasus/ plan yang belum atau masih coba dipecahkan?

Sejauh ini kita banyak plan, dan plan yang tidak mudah tentunya. Sebenarnya banyak tapi kita terus moving jadi tidak stuck. Karena dari founder level sampai kebawah pun, kita mencoba mindset growing and one at a time”.

Project apapun jika kita kerjakan satu satu, sedikit demi sedikit dan menyelesaikan satu persatu hingga benar-benar selesai.

Jika melihat ke masa kuliah dan training, ilmu pelajaran apa yang diharapkan lebih dikuasai?

Sebenarnya materi apapun yang ada diperkuliahan itu penting, tapi problemnya waktu dikuliah, cara penyampaiannya yang tidak relevan dengan industri.

Jadi kalau materinya dikembangkan, setiap mengajarkan materinya didampingi oleh kasus kasus di industri IT, mungkin akan sangat membantu mahasiswanya.

Zaman sekarang ada sekolah dan kursus kursus, pengajarnya merupakan orang orang berpengalaman di dunia engineer. Mengapa lulusan disana lebih relevan dibanding orang yang hanya dari universitas langsung?

Sebenarnya bukan masalah materinya, tetapi dari cara penyampaiannya saja. Bagi dosen, sering-sering ajak mahasiswanya ke industri atau sebaliknya, ajak industri main main ke kampus.

Dulu, study tour saya waktu kuliah malah ke BUMN besar yang tidak banyak ilmu teknologinya yang dapat saya petik untuk pekerjaan sekarang. Kecuali kalau kampus bawa mahasiswanya ke konsultan IT atau dibawa ke beberapa Start-Up.

Mungkin itu akan sangat relevan. Tokopedia juga sering visit ke kampus. Jadi secara enggak langsung ketika kita beri informasi. Saya berusaha memberikan pesan kepada para pengajarnya juga. Mohon maaf, bahwa teknologi sekarang sudah berubah, jadi tolong update materi dan cara penyampaiannya.

Keahlian apa aja sih yang diharapkan dimiliki oleh anggota teamnya?

Tiga hal yang harus kamu layakkan sebelum kamu apply adalah:

  1. Build something. Entah itu website, entah itu blog, build something. Mau pakai coding dan teknologi apa, terserah. Tapi setidaknya, kamu punya produk.
  2. Internship/Magang. Entah itu dimanapun, kegiatan magang akan membantu kamu memahami industri IT. Tokopedia cukup sering ya menerima intern menjadi pekerja full time.

Walaupun dia masih kuliah, asal dia capable, akan kita tawarkan bekerja tetap disini. Saya rasa magang akan lebih berpengaruh signifikan ya daripada orang orang yang punya IPK tinggi tapi minim pengalaman nyata di industri.

  • Kalau bisa, ikut komunitas. Zaman dulu tidak banyak komunitas IT, sekarang ada. Banyak tipe komunitas, kalau suka Golang silahkan ikuti komunitas Golang. Suka design, ikut komunitas design.

Ada banyak sekali. Saya sarankan rajin saja ikuti mereka. Nanti yang akan kita dapatkan adalah perspektif dan kenalan baru. Yang bisa saya jamin adalah orang kerja lebih mudah cari kenalan.

Ada rekomendasi komunitas apa yang dapat mendukung bagi Engineer?

Di meetup.com sudah banyak rekomendasi komunitas di Indonesia, mungkin seperti di kota Jakarta dan dikota lain.

Disana ada banyak banget. Secara garis besar, akan ada 3 komunitas yang sangat mendukung yaitu komunitas engineering, komunitas produk, dan yang advance lebih ke DevOp.

Tapi yang paling utama adalah dua komunitas diatas (engineering dan produk), karena insight dari kedua komunitas itu besar ya.

Bulan lalu, di Tokopedia kita buat tech event dan sebagian besar pesertanya adalah fresh graduate. Terus saya sempat mengobrol dengan beberapa orangnya dan ada yang berasal dari jurusan Perbanas/Banking.

Menurut pernyataan salah satu peserta yang belajar App tersebut, apapun pekerjaannya kalau dia bisa menguasai IT maka dia bisa approach the peer.

Peserta tersebut sudah cukup sering mengikuti event ini dan baru memulai belajar coding dan dia bahkan tidak ikut pendidikan formal untuk belajar IT.

Artinya, IPK kita tidak tahu dunia IT itu seperti apa. Itu lebih susah dari pada orang yang punya atau orang yang paham betul tentang dunia kerja IT, akan lebih menarik bagi saya.

Setiap calon pekerja harus punya skill (keterampilan) apa sih sehingga perekrut dapat menerima calon pekerja tersebut?

Yang pertama adalah kemampuan coding. Skill bagaimana membuat made deployment, kadang ada orang yang jago coding tapi tidak pernah menjadi nyata. Dia putus semangat di tengah jalan.

Kemudian skill deployment harus ada. Kemudian skill troubleshooting untuk perbaiki error itu sangat penting. Terus internship, internship itu akan mengajarkan kita bagaimana mengatasi pekerjaan yang selalu berubah. Mereka akan punya kemampuan fokus dalam pekerjaan.

Kita menghindari orang multi-tasking, kita lebih menghargai orang yang bekerja one at a time. Kemudian skill learning curve. Saat kita bergabung dengan komunitas yang sering membahas dan mengekspos teknologi baru dan membuat kita belajar juga tentang hal tersebut.

Jadi kita terasah. Kalau saya pribadi akan langsung melihat apa yang telah dia buat dan pengalamannya apa saja. Karena kalau kemampuan, kita tidak punya alat ukurnya.

Jadi saya sarankan, banyaklah untuk membuat project dan penuhi CV/ portofolio dengan project yang sudah kamu kerjakan.

Kalau misalkan hilang ingatan, terus untuk membalikkan ingatannya, skill tahapannya belajar apa dulu sih??

Habiskan waktu yang cukup banyak untuk membaca coding-an orang dan alasan inovasi mereka. Coba lihat dan pelajari flow coding yang sudah berhasil. Kita lihat, tiru lalu kembangkan.

Selain itu baca buku, saya dulu belajar buku coding yang langka. Entah bagaimana, saya merasa jadi bisa coding.

Beberapa tren sekarang, orang mengikuti dan membaca artikel satu potong dan coba. Tapi itu menyebabkan informasi yang kita dapatkan jadi sepotong-sepotong yang tidak lengkap, jadi bacalah dari buku.

Jadi intinya, coba lihat dan tiru coding yang sudah ada. Kedua, cari mentor kalau bisa. Ketiga, baca buku.

Pernah punya pengalaman nggak? Dapat kasus yang sulit dipecahkan. Tetapi malah kasus tersebut dipecahkan bukan sama seorang software engineer?

Product owner saya adalah orang dari akuntansi, dan malah keahlian dari akuntansinya membuat dia memiliki kemampuan analisis yang tajam.

Terus dia pernah bekerja di logistic company, dia tidak hanya bisa menganalisa tetapi dia juga bisa mengobservasi situasi. Ketika engineering membuat produk, dia dengan mudah mengaitkannya dengan teknologi. Dia tahu tahapan kerja industri.

Jadi, background apapun bisa berkontribusi di problem solving apapun. Asalkan selama dia bekerja ditempat lain sebelumnya, dia menggunakan kemampuan problem solvingnya terasah, ketika dia menemukan masalah, dia bisa memanfaatkan kemampuannya di akuntansi.

Hal yang sama di tim saya sekarang, product owner saya jauh dari bidang IT, dia menggeluti bidang korporat.

Tapi dia sudah bekerja cukup lama dan familiar dengan dunia airline, ketika dia menjumpai masalah travel di Tokopedia dalam kacamata teknologi, dia dapat melengkapi apa yang kurang. Kolaborasi. Yang paling penting, problem solvingnya.

Kalo diluar, saya punya rekan di bidang kue dan perdagangan, kami bisa membuat apapun menjadi nyata. Kami bekerja sama, kolaborasi, saling berbagi dan melengkapi.

Walaupun dengan latar belakang yang berbeda-beda, asalkan saling bersinergi dalam menyelesaikan permasalahan. Begitu pula di Tokopedia, kami tetap terbuka untuk mengumpulkan orang orang yang punya perspektif yang berbeda.

Sisi lain mas Purnaresa punya hobi lain selain Engineering tidak?

Saya punya banyak hobi, cuma tidak sering lagi saya lakukan. Saya suka baca manga sih seperti One Piece dan Naruto. Serial TV saya ikutin Game of Throne dan film saya ikutin Marvel. Game saya hobi DOTA. Itu saja.

Yang paling unik itu teman saya punya sisi dan hobi yang sangat berbeda. Dia Engineer tapi juga sekaligus jual batik. Jual batik konvensional lagi, bukan online yang mungkin akan kita kira diterapkan melalui ilmu engineeringnya.

Berangkat dari dia, tahun ini saya mengikuti jejaknya. Tapi online sih. Ternyata kerja di Tokopedia bisa memberikan semacam kesempatan bagi saya sebagai seller di Tokopedia.

Untungnya juga melebihi ekspektasi saya, mungkin itu juga sih hobi baru saya. Jualan di Tokopedia. Dagangannya saya adalah miswak/siwak untuk orang umroh atau untuk orang sikat gigi.

Share.

About Author

Lead Software Engineer at Tokopedia. Co-Founder Safaar. IT Consultant at Internut Sdn. Bhd Malaysia (Sep 2017 - Jun 2018). Senior Software Engineer ta Fashion Valet Sdn. Bhd Malaysia (Mar 2017 - Apr 2018)

3 Komentar

  1. Pingback: PHP Programmer Indonesia, Peter Jack Kambey | Techfor.id

  2. Suseno Barack on

    bagaimana caranya meyakinkan diri sendiri untuk terus mengasah kemampuan engineering kita?

  3. Tita Puspita on

    saya dulunya pelanggan setia di Tokped tapi karena beberapa kali saya diphp in , prefer pindah ke sebelah. mohon untuk diperbaiki lagi sistemnya

Tanya Sesuatu Pada Narasumber & Komentar