Rabu, Agustus 21
AI

Begini Cara Senior Program Lead Microsoft Hidup Berdampingan Dengan Robot

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sering menjadi bahan pembicaraan belakangan ini, khususnya di bidang teknologi. AI masih terus berkembang meski cikal bakal AI telah lahir beberapa dekade lalu.

Bisa dikatakan teknologi AI saat ini masih berusia bayi jika dianalogikan dengan usia manusia.

Kamu bisa dengarkan wawancara tim Techfor.id dengan Ferro Ferizka, Worldwide Senior Program Lead at Microsoft dengan klik tombol play di bawah ini.

https://techfor.id/wp-content/uploads/2019/02/Ferro-Ferizka-Artificial-Intelligece.mp3

Meski demikian kita sering lihat ada banyak film-film yang mengambil tema AI. Ada yang jahat dan ada pula yang baik. Tapi apakah AI memang seperti itu?

Kali ini, perkenalkan saya Ferro Ferizka akan coba membahas mengenai AI secara umum. Di sini kita tak akan membahas AI dengan sangat detail. Sederhana tapi ada di kehidupan sehari-hari kita.

Bahasa Inggris dan Komputer

Negara Indonesia itu tak kekurangan sumber daya manusia yang andal, tak jarang orang Indonesia yang bisa diterima bekerja di berbagai perusahaan terkemuka dunia. Jika kamu sudah punya tujuan/ cita-cita yang jelas dari masa kecil, kamu bisa mencapainya.

Ambil contoh, kehidupan saya. Dari sejak sekolah menengah pertama, saya itu menyukai komputer dan punya passion atau kegemaran akan hal-hal yang berkaitan dengan komputer. Sepulang sekolah, saya sering belajar pemrograman sederhana bersama guru saya.

Karena saya sudah tahu cita-citanya maka saat tiba masuk kuliah saya sudah tahu mau belajar di jurusan apa. Saya juga bersyukur karena memiliki cukup banyak menghasilkan prestasi dalam perlombaan berkaitan dengan komputer hingga pada akhirnya bisa diterima bekerja di salah satu perusahaan besar dunia, Microsoft.

Siapa pun bisa mengikuti jejak saya, apalagi jika kamu saat ini masih bersekolah.

Temukan passion kamu di bidang apa dan selalu kembangkan pengetahuan kamu di bidang yang kamu minati. Tapi ada 2 skill yang sebaiknya kamu punya, setidaknya basic-nya .

Yakni komputer dan Bahasa Inggris.

Seperti sudah kita ketahui bahwa saat ini adalah era teknologi. Penggunaan komputer sudah merambah ke dalam kehidupan sehari-hari kita dan bukan tak mungkin di masa depan kita akan lebih tergantung dengan teknologi ini, misalnya penggunaan AI.

Namun yang pasti, saat ini kita sudah tak bisa menghindarinya meski penggunaannya mungkin tak setiap saat, misalnya mengirim e-mail ke sanak keluarga.

Dan kita tahu komputer pada umumnya menggunakan bahasa asing. Bahasa apa? Apalagi kalau bukan Bahasa Inggris.

Oleh karena itu, meski hanya mengerti sedikit Bahasa Inggris, itu sudah cukup agar bisa mengoperasikan komputer. Dan dunia kerja saat ini, kedua skill ini bagaikan syarat mutlak yang harus dipunyai.

Dan saat kamu berhasil bekerja di perusahaan asing atau bekerja secara remote di perusahaan itu, kamu tak boleh malas karena ada kemungkinan adanya perbedaan waktu kerja dengan Indonesia karena adanya perbedaan time zone.

Pada intinya, kejar passion positif kamu dan tak mudah menyerah. Tak hanya mempelajari, kamu juga perlu berinovasi dengan skill yang kamu punya dan tunjukkan hasilnya pada dunia. Learn, Create, and Show.

Nah, jika kamu berniat untuk bekerja di bidang teknologi informasi maka kembangkan pengetahuan komputer kamu karena bukan tak mungkin kamu bisa mengajari komputer untuk lebih bisa memahami kegiatan manusia dan pada akhirnya membantu kehidupan sehari-hari manusia.

Inilah yang dinamakan Artificial Intelligence (AI).

Robot menjadi tenaga produksi pendamping manusia. Foto: japantimes

AI Dalam Kehidupan Kita dan di Masa Depan

Kini perusahaan-perusahaan sudah menggunakan komputer dalam menunjang aktivitas. Sepertinya sudah jarang atau bahkan mungkin tak ada perusahaan yang tak menggunakan mesin yang satu ini, meski tugasnya sangat-sangat sederhana.

Apalagi perusahaan berskala besar. Tentu mereka mengandalkan komputer agar kinerja perusahaan tetap terjaga. Di masa depan ada kemungkinan penggunaan komputer akan semakin meningkat dan teknologi komputer akan semakin maju.

Teknologi Artificial Intelligence (AI) akan menjadi hal yang umum digunakan di perusahaan-perusahaan.

Saat ini pun sudah ada perusahaan yang menggunakannya meski teknologi AI masih terbatas. Misalnya, jika sebuah perusahaan memiliki ratusan customer mungkin masih bisa ditangani oleh customer service atau menganalisis datanya secara manual.

Tapi bagaimana jika ratusan ribu atau miliaran customer?

Perusahaan yang mempunyai data customer yang besar, rasanya tak mungkin dilakukan secara manual. Menganalisis data dalam jumlah besar jika dilakukan oleh manusia akan berpotensi terjadi kesalahan.

Disinilah AI bisa berguna. Berdasarkan model yang sudah dibuat, AI bisa mengerjakannya. AI bisa “diajari”cara mengerjakan tugas-tugas dan manusia hanya menunggu hasilnya.

AI itu bisa diartikan sebagai kemampuan komputer untuk berpikir seperti manusia. Jadi ketika mesin sudah bisa berpikir bagai manusia maka tak tertutup kemungkinan sebagian besar pekerjaan manusia akan digantikan oleh mesin komputer.

Kini kita pun sudah mulai merasakan bahwa teknologi mulai mengambil alih pekerjaan manusia. Contoh nyata adalah gerbang tol.

Dahulu gerbang tol masih dijaga oleh manusia. Kita menyerahkan sejumlah uang ke petugas gerbang tol untuk memasuki tol. Kini semua itu berubah. Kita yang melayani sendiri untuk masuk tol. Cara pembayarannya pun berubah, dari uang cash ke bentuk kartu.

Itu adalah salah satu contoh bagaimana teknologi mulai menggantikan peran manusia. Itu hanya teknologi biasa belum berisi AI. Bayangkan jika sebuah teknologi sudah dibenamkan AI!

Untuk menuju ke arah sana, AI pun mesti belajar dahulu. Nantinya komputer tak hanya diberikan instruksi atau perintah saja tapi bisa berpikir dahulu sebelum mengambil keputusan.

Selain memberi dampak positif bagi kehidupan kita tapi AI juga bisa memberi dampak negatif bagi kita. Dengan menggantikan tugas manusia, bisa dikatakan itulah dampak negatifnya jika dilihat dari sudut pandang tertentu.

AI memberi dampak negatif pada manusia yang tugasnya hanya mengerjakan rutin dan yang tak perlu menggunakan kreativitas.

Mungkin sebagian besar kita bahwa AI masih jauh untuk mencapai itu. Mungkin iya, mungkin juga tidak karena manusia juga yang mengajari AI agar bisa menjadi lebih cerdas.

Agar manusia tak terkena dampak negatif AI maka ini sudah menjadi tugas pengambil kebijakan agar lapangan pekerjaan bagi manusia tetap terbuka. Menurut Bpk. Ferro, kita tak bisa menyalahkan AI jika kita tersingkir dari dunia kerja jika kita tak mau belajar.

Kita tak bisa menyalahkan perusahaan yang menggunakan teknologi AI karena memang penggunaan AI bisa mengurangi biaya pengeluaran perusahaan.

Mungkin tidak dalam waktu dekat AI bisa seperti itu tapi tak ada salahnya pemerintah dan para pengambil kebijakan mulai berpikir ke arah sana agar manusia bisa tetap bekerja berdampingan dengan AI.

Teknologi AI masih berkembang dan untuk menjadi secerdas manusia masih membutuhkan waktu. Tapi kita tak bisa bersantai-santai jika kita tak ingin dunia kerja dikuasai oleh AI sepenuhnya.

Tak perlu membayangkan AI akan berbuat seperti di film-film fiksi ilmiah. Tak perlu takut akan keberadaan AI saat ini. Saat ini yang terpenting bagi kita adalah terus belajar dan berinovasi.

Kembangkan potensi, khususnya kamu yang masih bersekolah, dan jangan menyerah pada kegagalan. Saat kamu bisa mengeluarkan inovasi baru, tunjukkan kepada dunia agar mereka tahu. Dengan demikian, kamu akan punya masa depan yang cerah.

Share.

About Author

Worldwide Senior Program Lead at Microsoft. Master of Science in Innovation Strategy. Worldwide Hackathon 1st Winner - Executive Challenge by Kathleen Hogan

2 Komentar

  1. Gunawan on

    awal2 ngomongin pasal passion. nah, cara nemuin passion kita yang simple gmna ya mas?

Tanya Sesuatu Pada Narasumber & Komentar