Cara-cara Meng-Alokasikan Data GIS

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Geographic Information System (GIS) atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Sistem Informasi Geografis, dewasa ini memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan di setiap lini kehidupan. Sayangnya, masih sedikit orang ahli yang mau berkecimpung di ranah GIS.

GIS sendiri merupakan sistem yang dapat digunakan untuk membuat peta-peta digital, menyebarkan data geografis, dan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk bahan pengambilan keputusan. Maka dari itu, bukan cuma perusahaan yang baru merintis (startup) saja yang dapat menggunakannya. Tapi perusahaan besar hingga pemerintah sekalipun bisa memanfaatkan GIS.

Hal tersebut dibenarkan oleh Ahmad Syarif, salah satu ahli yang terjun langsung ke dunia GIS untuk mengembangkan ide-idenya menjadi sebuah software atau aplikasi. “Sekarang GIS sudah dalam bentuk web services maka udah bisa bermain banyak data, tabular database, dan vektor. Jadi GIS bisa digunakan untuk analisa beragam kegiatan,” kata Ahmad.

Dalam GIS sendiri, ada beberapa bentuk atau simbol yang harus dipahami untuk dapat membaca raw data dan kemudian menganalisanya. Bentuk yang pertama ialah garis. Yang kedua adalah titik. Dan terakhir adalah poligon. Ketiga bentuk itu membedakan cara pembacaan data.

“Di dunia GIS, harus bisa bedakan fungsi bukan gambar. Misal, kalau mau liat sebaran mesin ATM lihat yang titik. Mau mengukur persil daerah, yang dipakai poligon karena akan menghitung luas. Untuk mengetahui jarak, pakai garis,” sambung Ahmad.

Selain data berbentuk 2 dimensi, GIS juga mampu menghasilkan data 3 dimensi. Untuk membaca data 3 dimensi, kamu harus paham arti simbol X, Y, Z, dan M.

“X dan Y itu menunjukkan lokasi koordinat. Z itu ketinggian, bisa minus berarti di bawah permukaan laut, bisa plus yang berarti di atas permukaan laut. Kalau M itu sensor tanda arah. Biasanya ada di Google Maps,” lanjut Ahmad.

Menurut Ahmad, data-data yang dapat diolah di GIS memiliki banyak sumber. Bukan cuma yang berbayar, tapi ada juga yang gratis. Dari data-data berbayar maupun gratis itulah akan disusun menjadi dynamic image yang trennya lebih mengarah ke portal hook agar satu data bisa diakses oleh banyak orang.

Contoh data untuk diakses semua orang adalah kebijakan satu peta yabg mulai diterapkan di hampir semua kementerian. Dengan kebijakan ini, setiap kementerian khusus ngomongin dan memberikan data yang terkait spesialisasinya saja.

“Kalau dulu masih tercampur. Cari data pertanian ada di website Kementerian Perhutanan. Sebaliknya juga begitu. Sekarang cari data kehutanan ya di Kementerian Kehutanan. Cari data sawah ya di Kementerian Pertanian,” kata Ahmad.

Hampir semua pemerintahan sudah memberikan datanya secara gratis. Bukan hanya kementerian, tapi disdukcapil (Dinas Kependudukan  & Pencatatan Sipil) pun telah membuka datanya agar dapet diakses secara luas dan gratis. Inilah sebabnya, kamu bisa dengan mudah mencari data seseorang, lengkap dengan RT/RW rumah tempat ia tinggal karena data yang ada adalah real time dan web services.

“Data disdukcakpil bisa diakses gratis dan bisa kita olah untuk menghasilkan uang. Contoh, data-data disdukcapil itu kan e-ktp, saya bisa tau kecamatan ini jumlah penduduknya berapa, PNS-nya berapa, agamanya apa saja, pendidikannya apa. Bisa dijual nanti datanya,” jelas Ahmad.

Contoh lainnya adalah Kemnterian Dalam Negeri (Kemendagri). Kementerian itu membeli data cukup banyak dengan harga yang cukup fantastis. Tapi dibuka dan bisa di akses oleh umum.

“Data dari Kemendagri bisa dipakai untuk mencari tahu jumlah rumah sakit atau posyandu. Nantinya bisa kita jual ke pengembang aplikasi atau kita develop sendiri jadi aplikasi. Intinya, memahami GIS dan cara mengolah datanya, bisa menghasilkan uang,” tutur Ahmad.

Jika anda ingin bertanya ke Ahmad Syarif . Silahkan masukkan pertanyaan anda pada kolom di bawah 

Share.

About Author

Ahmad Syarif

Chief Marketing Officer at PT. Mitra Tech Indonesia & Spesialis Geographic Information System

1 Komentar

Tanya Sesuatu Pada Narasumber & Komentar